Cinta adalah Anugrah
Apakah anda seorang ibu?
Atau calon Ibu?
Bagi yang sudah menikah, pasti menginginkan segera dapat momongan (anak). Bagi yang belum menikah, pasti ingin segera mendapat pasangan. Betul kan?
Kenapa kita ingin dapat pasangan dan anak?
Allah menciptakan manusia disertai dengan naluri berkasih sayang (gharizah nau’). Naluri ini eksis dalam diri manusia dan ditampakkan dalam bentuk ketertarikan pada lawan jenis, dan rasa sayang. Istilah keren nya sih, CINTA.
Nah, sebagai bentuk anugrah dari Allah, rasa Cinta yang ada pada manusia ini harus diarahkan sesuai dengan arahan Sang Maha Pencipta Rasa Cinta. Jika tidak, maka akan menimbulkan kekacauan.
Misalnya, jika seseorang salah dalam mengekspresikan rasa cinta, dia bisa saja mencintai istri/suami orang, lalu terjadi affair atau perselingkuhan. Kaum muda mudi yang salah mengekspresikan cintanya bahkan banyak terjebak dengan seks bebas. Bahkan karena cinta salah arah juga lah terjadi hubungan sesama jenis.
Oleh karenanya, rasa cinta tidak boleh dibiarkan bebas tanpa ikatan, namun harus diarahkan oleh aturan Sang Maha Pencipta.
Apa jadinya dunia tanpa cinta?
Allah SWT menciptakan naluri berkasih sayang, yang ditampakkan dalam rasa cinta, adalah untuk menentramkan hati manusia, sekaligus untuk melestarikan jenis manusia. Coba bayangkan, jika manusia tidak punya cinta, tentu satu sama lain akan saling tidak peduli atau cuek. Tidak ada orang yang mau menikah, dan punya anak. Akhirnya kehidupan manusia pun bisa musnah.
Fakta menunjukan, bahwa seorang ibu, yang rasa cinta nya ter eleminasi oleh rasa malu, bisa tega membunuh anaknya. Seorang ayah, yang takut dengan kemiskinan dan aib, akan tega menghabisi keluarga dan buah hatinya. Banyak sekali kasus pembuangan bayi, pembunuhan anak, dan penelantaran anak, karena rasa malu, takut sengsara, takut terhambat karir dan sebagainya. Sehingga terjadi tragedi-tragedi yang menimpa anak-anak.
Bahkan seorang kekasih tega menganiaya pasangannya karena amarah dan hal-hal sepele.
Oleh karenanya, rasa cinta tidak boleh dibiarkan berjalan sendiri, dan tidak boleh dihilangkan atau di-eliminasi oleh perasaan lain.
Berbahagialah manusia karena memiliki rasa cinta. Rasa cinta dan naluri berkasih sayang adalah nikmat yang Allah berikan pada manusia, untuk ketenteraman hidup manusia.
Bukankah, senang rasanya jika sudah punya suami?
Bukankah bahagia rasanya punya anak yang menyejukkan pandangan?
Bukankah nikmat rasanya diperhatikan oleh kekasih, sang belahan jiwa?
Maka syukurilah nikmat rasa cinta ini dengan mengarahkan perasaan ini sesuai dengan aturanNya.
Allah SWT berfirman, yang artinya: “Dan diantara tanda-tanda kebesaran Allah, adalah Dia menciptakan bagi kalian pasangan/belahan jiwa (istri), dari jenis kalian sendiri agar kalian merasa cenderung dan tenteram (sakinah) kepadanya, dan Dia menjadikan diantaramu kasih sayang (mawddah wa rahmah). Sungguh pada yang demikian itu ada tanda-tanda kebesaran Allah bagi kaum yang berfikir.” (TQS Ar-Rum: 21)
Azwaajan, atau pasangan dalam ayat tersebut, bisa diartikan belahan jiwa (soulmate), sehingga membuat manusia merasa Sakinah atau cenderung mendekat dan sayang pada pasangannya. Rindu jika berjauhan, dan tenteram jika berdekatan. Lalu, Allah ciptakan mawaddah wa rahmah (kasih sayang) pada pasangan, apapun bentuk penampilan pasangan. Biarpun orang mengatakan suami kita mukanya pas-pasan, bagi kita, dialah pria terganteng sedunia.
Rasul SAW bersabda: “Yang lebih utama lagi adalah lisan yang berzikir, hati yang bersyukur, dan istri sholihah yang akan membantu mukmin untuk memelihara keimanannya”.
Yuk syukuri rasa cinta Anugrah Allah dengan mengikuti aturan Allah